Tanggal 16 Oktober di peringati sebagai hari Pangan Dunia, begitu pentingnya pangan bagi kehidupan manusia di bumi ini. Adanya satu hari khusus untuk memperingati pangan sebetulnya mengingatkan akan pentingnya pangan, sehingga diharapkan ada perhatian khusus terhadap pangan dan segala aspeknya.
Kualitas pangan yang dikonsumsi rakyat akan menentukan tingkat pertumbuhan fisik dan kecerdasannya. Tidak akan ada perbaikan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara signifikan tanpa perbaikan kualitas gizi masyarakatnya, itulah ungkapan dari Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo satu tahun silam.
Bicara masalah pangan maka perhatian kita akan terpusat pada topik ketahanan pangan. Pemerintah Indonesia pun secara formal telah memperhatikan sektor ketahanan pangan, ini terbukti dengan adanya suatu lembaga atau institusi dari mulai pusat sampai ke kabupaten dan kota, institusi itu bernama Dewan Ketahanan Pangan (DKP). Bukti lain perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan adalah terbitnya buku Sembilan Program Ketahanan Pangan Nasional yang merupakan kebijakan umum ketahanan pangan tahun 2006-2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tahun 2006 selam.
Menurut Menteri Pertanian ada tiga hal pokok dalam program ketahanan pangan, pertama, ketersediaan dengan tujuan mencukupi kebutuhan pangan yang diharapkan sebagian besar atau seluruhnya dapat diproduksi di dalam negeri. Kedua, distribusi dengan tujuan mudah dijangkau oleh setiap individu dan rumah tangga, dan ketiga konsumsi, artinya yang dikonsumsi haruslah sehat dan bergizi seimbang.
Salah satu intsrumen yang dapat menggambarkan kondisi ketiga pokok program ketahanan pangan tersebut adalah Neraca Bahan Makanan atau lebih dikenal dengan NBM, karena tujuan dan sasaran Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah :
1. Untuk melihat kecenderungan ketersediaan pangan selama kurun waktu tertentu
2. Untuk melihat perubahan penyediaan pangan / gizi dan pergeseran dari setiap jenis
3. makanan yang dikonsumsi penduduk di waktu yang berbeda.
4. Untuk melihat distribusi penggunaan jenis bahan makanan seperti yang diekspor, diimpor, diproses untuk industri, pakan ternak dan yang tersedia siap dikonsumsi penduduk.
NBM Jawa Tengah
Pada umumnya ketersediaan pangan Jawa Tengah pada tahun 2006 sebagian besar berasal dari produksi sendiri, komoditi-komoditi utama yang masih perlu mengimpor dari luar Jawa Tengah ádalah Gula pasir, Kedelai , Jagung dan Beras.
Ketersediaan makanan per kapita di Propinsi Jawa Tengah tahun 2006 adalah sebesar
2 982 kkal/hari untuk energi, 76,25 gram/hari untuk protein dan 49,08 gram/hari untuk lemak. Dari angka ketersediaan ini dapat diketahui bahwa Propinsi Jawa Tengah berada di atas angka ketersediaan normal per kapita bagi penduduk.
Jika dilihat menurut sumber makanannya, sumber makanan nabati memiliki ketersedian per kapita lebih besar dibanding hewani. Angka ketersediaan per kapita makanan nabati adalah 2 905,18 kkal/hari untuk energi, 69,81 gram/hari untuk protein dan 44,28 gram/hari untuk lemak.
Sumber ketersediaan bahan makanan dari tahun 2000-2006 didominasi oleh sumber makanan dari nabati, yaitu sumber makanan dari tumbuh-tumbuhan dibanding dari sumber makanan hewani atau peternakan. Dominannya sumber nabati dalam ketersediaan bahan makanan ini mengarahkan betapa pentingnya pemeliharaan dan pemanfaatan lahan. Pemanfaatan dan pemeliharaan lahan akan secara langsung berpaengaruh terhadap hasil produksi, sehingga secara tidak langsung akan memepengaruhi ketersediaan bahan makanan. Pemanfaatan dan pemeliharaan lahan yang baik akan menjadikan kualitas lahan tetap terjaga, dengan kulitas lahan yang tetap baik maka akan mengahasilkan produksi yang baik pula.
Sumber makanan hewani sangat memerlukan perhatian dari pihak terkait, selama kurun waktu 2000-2006 ketersedian makanan dari sumber hewani tidak ada peningkatan yang signifikan, bahkan terjadi penurunan. Perhatian sumber makanan hewani ini mengangkat minat masyarakt untuk berusaha di sektor yang berhubungan dengan sumber hewani ini. Peningkatan minat masyarakat tersebut akhirnya berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat, yang selanjutnya akan memepengaruhi ekonomi secara umum.
Ketersediaan energi tahun 2000-2006 sangat tergantung pada sumber makanan dari nabati. Ketergantungan ini sangatlah wajar, karena secara umum sumber makanan nabati mangandung unsur energi.
Peranan sumber makanan nabati tertinggi terjadi pada tahun 2002, yang kemudian mengalami penurunan peranan pada tahun berikutnya. Pada ketersediaan protein peranan sumber makanan hewani lebih baik dibanding pada ketersediaan energi, meskipun tetap masih di bawah peranan sumber makanan nabati.
Selama kurun waktu 2000-2006 peranan sumber makanan hewani pada ketersediaan protein tertinggi pada tahun 2000, dan terus menurun sampai tahun 2003. Penurunan peranan sumber makanan hewani ini dimungkinkan oleh melandanya wabah flu burung, yang secara tidak langsung sangat memepengaruhi hasil produksi. Wabah Flu Burung ikut berperan dalam hancurnya kegiatan peternakan, banyak pengusaha yang gulung tikar, masyarakat tidak mau mengkonsumsi daging unggas. Peranan sumber makanan hewani terus meningkat di ketersediaan lemak, ini dimungkinkan karena kandungan gizi yang ada dalam sumber makanan hewani didominasi oleh lemak.
Oleh : Moh Fatichuddin
(BPS Kab Semarang)
*Penulis menjadi anggota tim penyusun NBM Jawa Tengah (2003-2006)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
ass.
BalasHapusbapak, untuk mencari NBM Jawa Tengah kita harus mencari kemana ya pak? BPS Jateng atau BKP?
tks